Kemenyan Dan Kapur

Diburu Asing, Merana di Negeri Sendiri

Bau wangi kemenyan (Syntrak benzoin) menyeruak begitu pintu gudang kemenyan milik Robin Simanjuntak (54) di Desa Pancurbatu, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dibuka, Sabtu (21/5) siang. Getah kering berwarna putih dan kehitaman terhampar memenuhi lantai gudang seluas sekitar 5 x 5 meter.

Ada satu kotak kemenyan kering-putih kualitas satu yang sudah masuk kotak kardus ukuran sekitar 40 x 40 x 40 sentimeter. Isinya 50 kilogram. ”Harganya Rp 20 juta ini,” kata Robin, membuat pendengarnya terbelalak.

Kemenyan, getah wangi yang dicari di pasar internasional sejak berabad-abad lalu, memang bernilai tinggi. Di masa lalu, kata Robin, nilai kemenyan setara emas. Hingga kini, kemenyan masih tumbuh subur di dataran tinggi pantai barat Sumut, antara lain di Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat.

Data Dinas Perkebunan Sumut 2014 menunjukkan, tanaman ini tumbuh di areal seluas 22.897,82 hektar dengan produksi mencapai 4.968,82 ton. Tanaman itu kini diusahakan oleh 40.959 petani yang turun temurun mengupayakannya selama ratusan tahun. Sebanyak 70 persen tanaman ada di Tapanuli Utara.

Kondisi ini jauh lebih baik daripada tanaman kapur (Dryobalanops aromatic) yang juga tumbuh di pantai barat Sumut, khususnya di kawasan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Pakpak Bharat. Tanaman ini terkenal dan dicari para musafir abad ke 7 di pesisir barat Sumatera karena mengandung Kristal wangi. Cerita tutur warga Tapanuli Tengah juga menyatakan, kapur dari Barus, Tapanuli Tengah, dipakai untuk membuat mumi para Firaun di Mesir.

Tanaman itu kini tinggal 20 batang yang dikonservasi petani bernama Jalungun Silaban di Kecamatan Sirandorung, Tapanuli Tengah. Kapur diduga hilang karena tidak ada konservasi. Untuk mengambil Kristal wanginya, batang tanaman harus dipotong dan dibelah sehingga tanaman mati.

Tanaman akan habis

Tanpa regenerasi, tanaman akhirnya habis. Namun, tanaman ini dilaporkan ditemukan secara sporadis di hutan negara di kawasan Pakpak Barat dan Aceh. Sementara kemenyan diambil getahnya, tetapi harus tumbuh di hutan bersama tanaman lain.

Untuk mendapatkan getah, Bontor Manalu (60), petani kemenyan di Desa Pancur Batu, Adian Koting, setiap Senin pagi pergi ke hutan keluarganya di Pasulungan dan Hobo di kawasan Adian Koting. Waktu tempuh dari rumah ke hutan berjalan kaki selama 2 jam. Di hutan, ia merawat dan memanen kemenyan, dan baru keluar dari hutan hari jumat.

Di hutan, ia tinggal di pondok kecil yang ia bangun berbekal segala keperluan hidup. Ia merawat pohon kemenyan, membuang benalunya dengan naik pohon satu per satu, membuah satu-satu ulat batang, dan menanam tunas barunya yang tumbuh dekat pohon induuk ke tempat yang tepat. Semua ilmu perawatan dan pengembangbiakan diperoleh secara otodidak.

Getah kemenyan meleleh sangat pelan dari batang yang dilukai. Getah akan mongering membelit kulit kayu. Dibutuhkan waktu tiga bulan bagi petani untuk mengambil getah itu dengan dikupas bersama kulit pohon. Di rumah, kulit dan getah dipisahkan.

Bontor meregenerasi tanaman kemenyan keluarganya sejak 1979. Perlu waktu 10 tahun sebuah pohon untuk bisa dipanen getahnya. Hingga kini ada 2.000 pohon yang ia pelihara dalam 35 tahun terakhir, 700 batang di antaranya sudah menghasilkan. Uang hasil panen digunakan untuk mebiayai hidup dan pendidikan kelima anaknya.

Tahun ini, harga getah kemenyan bagus-bagusnya. Harga getah kualitas satu Rp.220.000 – Rp.300.000 per kg di tingkat petani. Sementara di pengumpul, harganya bisa mencapai Rp.400.000 per kg. Kayu batang kemenyan yang telah dipisahkan dari getahnya laku Rp.15.000 per kg.

Bontor menjual kemenyan ke Robin yang mengirimnya ke Humbang Hasundutan. Dari Doloksanggul, kemenyan itu dikirim ke Purwokerto dan Semarang atau Kepulauan Riau.

Lisensi ekspor

Dari situ, getah diekspor ke Singapura, Malaysia, India, Perancis, Jerman dan Taiwan. “Setahu saya lisensi ekspornya ada di Singapura. Ini komoditas monopoli.” Kata Robin, yang memutar usaha beromzet miliaran rupiah itu dari modal sendiri tanpa uang pinjaman bank. Ia rata-rata menjual 3 ton kemenyan tiap bulan.

Getah itu disuling diambil minyaknya. Di Perancis, minyak kemenyan digunakan untuk bahan pengikat parfum supaya parfum awet di badan. Di Jerman, getah kemenyan digunakan untuk pengawet obat. Ampasnya digunakan untuk pewangi dupa di Tiongkok dan India.

Tahun 1990-an, petani kemenyan pernah dikumpulkan di Tarutung karena ada pembeli dari Perancis yang ingin tahu proses produksi getah kemenyan. “tetapi setelah itu saya tidak tahu lagi kelanjutannya.” Kata Robbin, yang sudah tiga generasi mengelola kemenyan.

Menurut Bontor dan Robin, selama bergumul dengan kemenyan, belum pernah ada bantuan pemerintah. Petani malas mengajukan bantuan ke pemerintah karena ribet. Penyuluh bahkan sama sekali tidak ad.

Bontor berharap pemerintah memperhatikan petani kemenyan dengan menyediakan bibit unggul yang bisa dipanen dalam lima tahun. “Itu bakal luar biasa hasilnya. Sekarang kami harus menunggu 10 tahun untuk bisa panen,” kata Bontor.

Menurut Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, pihaknya akan mengembangkan kemenyan dan anggarannya dari P-APBD tahun ini. Pihaknya sudah mendapat surat dari Kementrian Pertanian bahwa Tapanuli Utara adalah daerah endemic kemenyan. “Namun, sampai sekarang belum ada kelanjutannya,” kata Nikson.

(Kompas, 24 Mei 2016)

 

Komentar

%d bloggers like this: